Bursa Asia Dibuka Menguat Lagi, Tapi Mulai Kehilangan Tenaga

Berita, Teknologi147 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik kembali dibuka menguat pada perdagangan Jumat (1/9/2023), meski beberapa bursa sudah mulai terkoreksi karena investor mulai merealisasikan keuntungannya setelah mayoritas bursa Asia-Pasifik menguat empat hari beruntun.

Per pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,51%, Shanghai Composite China bertambah 0,55%, dan KOSPI Korea Selatan naik tipis 0,06%.

Sedangkan untuk indeks ASX 200 Australia terpantau melemah 0,4% pada awal perdagangan hari ini.

Sementara untuk indeks Hang Seng Hong Kong pada hari ini ditunda pembukaannya karena ada Topan Saola yang menerjang Hong Kong, sehingga pembukaan Hang Seng ditunda hingga pukul 12:00 waktu setempat.

Dari China, data aktivitas manufaktur yang tergambarkan pada Purchasing Manager’s Index (PMI) versi Caixin periode Agustus akan dirilis pada hari ini.

PMI Manufaktur China versi Caixin pada Agustus diperkirakan di posisi 49,3. Angka tersebut hanya naik 1 poin dari posisi sebelumnya pada Juli lalu yang sebesar 49,2.

Meskipun diprediksi naik, tetapi PMI Manufaktur China Caixin juga masih berada di kondisi kontrakasi.

Sebelumnya kemarin, PMI manufaktur China versi NBS periode Agustus telah dirilis. Hasilnya menunjukkan ada kenaikan tetapi masih berada di zona kontraksi. PMI manufaktur NBS naik menjadi 49,7 pada Agustus 2023, dari sebelumnya di angka 49,3 pada Juli 2023.

PMI manufaktur adalah ukuran mengenai kondisi manufaktur sebuah negara, Angka 50 sebagai batas acuannya, di bawah angka tersebut manufaktur terkontraksi sementara di atas 50 artinya manufaktur sedang ekspansi.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas masih menguat terjadi di tengah mulai melandainya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan kemarin.

Baca Juga  Wali Kota Sebut Padang Darurat Sampah

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 0,48%, sedangkan S&P 500 turun 0,16%. Namun, Nasdaq Composite masih menguat 0,11%.

Investor mulai melakukan aksi profit taking, sehingga koreksi Wall Street pun tak terhindarkan. Investor juga mencermati data inflasi AS yang baru.

Indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti meningkat 0,2% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 4,2% (year-on-year/yoy) pada Juli, sesuai dengan perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones. PCE inti adalah indikator inflasi yang diawasi ketat oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Selain itu, klaim awal pengangguran Amerika Serikat turun menjadi 228.000 pada pekan yang berakhir 26 Agustus 2023. Angka ini lebih rendah dari posisi pekan sebelumnya dan konsensus.

Sebelumnya, data payrolls ADP menunjukkan pengusaha swasta menambah 177.000 pekerjaan pada Agustus. Jumlah tersebut jauh di bawah angka revisi pada Juli yaitu 371.000. Itu juga meleset dari perkiraan Dow Jones sebesar 200.000. Laporan Tenaga Kerja Nasional ADP mengukur angka tenaga kerja sektor swasta non-pertanian.

AS juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2023 menjadi 2,1% (yoy) dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,4%.

Sementara itu, jumlah lapangan pekerjaan baru JOLTS turun 338.000 menjadi 8,83 juta pada Juli 2023. Jumlah tersebut adalah yang terendah sejak Maret 2021 dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 9,47 juta.

Rilis data makro tersebut menjadi pertimbangan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter selanjutnya.

Jka ekonomi AS melemah, maka pasar memperkirakan The Fed bakal melunak. Perangkat CME Fedwatch menunjukkan 89% investor yakin The Fed akan menahan suku bunga acuan di 5,25%-5,5% dalam pertemuan September.

Hari ini, AS juga akan mengumumkan data penting yakni angka pengangguran periode Agustus 2023. Pelaku pasar memperkirakan tingkat pengangguran akan naik menjadi 3,8% pada Agustus, dari 3,5% pada Juli. AS juga akan mengumumkan data non-farm payroll (NFP) periode Agustus.

Baca Juga  Investasi, Komisaris PEHA Beli Saham 74.000 Lembar

Dua data ini menjadi pertimbangan utama The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga pada September ini. Jika data tenaga kerja memburuk maka ada harapan The Fed melunak.

Namun secara historis, periode September merupakan periode ‘membosankan’. September memiliki reputasi sebagai bulan terburuk dalam setahun bagi pasar modal.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bursa Asia Dibuka Loyo, IHSG Bakal Pesta Sendirian Lagi?

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *