Bursa Komoditas Nikel untuk Kendaraan Listrik Siap Meluncur

Berita, Teknologi139 Dilihat

Singapura: Bursa komoditas yang berbasis di Singapura berencana meluncurkan kontrak berjangka pertama di dunia untuk jenis nikel yang digunakan di sektor kendaraan listrik (EV) yang sedang booming pada akhir tahun ini.
 
Kepala Strategi dan Pengembangan Bisnis Abaxx Exchange Dan McElduff menuturkan Bursa Komoditas Abaxx, yang sedang mendapatkan persetujuan regulasi akhir di Singapura, berencana meluncurkan kontrak berjangka nikel sulfat, yang merupakan kontrak pertama di dunia.
 
Bursa tersebut, yang dimiliki oleh Abaxx Technologies yang terdaftar di Kanada, juga berencana meluncurkan gas alam cair (LNG) dan karbon berjangka.

Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Tidak diragukan lagi bahwa pasar ini memerlukan penemuan harga yang lebih banyak dan lebih baik dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan kontrak berjangka yang diselesaikan secara fisik,” kata McElduff dikutip dari Business Times, Sabtu, 26 Agustus 2023.
 
Dia menjelaskan fokus awalnya bukanlah untuk bersaing dengan kelompok bursa besar dalam produk inti mereka, namun fokus pada pasar negara berkembang.
 
“Kami mengklasifikasikan nikel sulfat sebagai pasar negara berkembang,” tegas dia.
 
Kontrak berjangka nikel yang ada di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange memperdagangkan nikel olahan Kelas 1. Nikel sulfat adalah salah satu bentuk nikel yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik, sebuah sektor yang semakin penting.
 
Abaxx mengatakan pihaknya telah berkonsultasi dengan 21 perusahaan sebelum membuat kontrak nikel, termasuk produsen mobil, perusahaan pertambangan, pialang, dan perusahaan dagang. Mereka menolak untuk mengidentifikasi mereka karena klausul kerahasiaan.
 
Menurut UBS meskipun baja tahan karat saat ini menyumbang sekitar dua pertiga dari penggunaan nikel, baterai akan memenuhi 40 persen permintaan pada tahun 2030 dari 15 persen saat ini.
 
Volume kontrak acuan nikel di LME, tempat perdagangan logam industri terbesar di dunia, telah menurun menyusul krisis pada bulan Maret tahun lalu, ketika bursa menghentikan perdagangan setelah lonjakan harga yang kacau balau.

harga nikel di LME

Salah satu alasan ketidakteraturan harga di LME tahun lalu adalah karena sebagian besar produksi nikel global telah beralih ke jenis nikel dengan kadar lebih rendah seperti nikel pig iron, yang tidak dapat disalurkan melalui LME.
 
Pada bulan Maret, LME yang berusia 146 tahun meluncurkan langkah-langkah besar untuk menghidupkan kembali kontrak nikelnya yang lesu dan mengatakan akan bekerja sama dengan Qianhai Mercantile Exchange (QME) Tiongkok untuk meluncurkan perdagangan nikel dengan kadar nikel yang lebih rendah. LME dan QME dimiliki oleh Bursa Hong Kong.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(SAW)

Quoted From Many Source

Baca Juga  Kondisi Terkini Nunung Srimulat Setelah Jalani Kemoterapi Terakhir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *