Jadi Taipan Terkaya ke-4 RI, Ini Alasan Harta Prajogo Melesat

Berita, Teknologi149 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Konglomerat Prajogo Pangestu melesat menjadi orang terkaya ke empat di Indonesia dengan penambahan harta sebesar US$371 juta atau setara Rp5,67 triliun dalam semalam.

Menurut data Forbes Real Time Billionaire per Jumat, (25/8/2023), pengusaha bidang petrokimia dan pertambangan tersebut mencatatkan kekayaan sebesar US$7,9 miliar. Angka ini setara Rp12,85 triliun (Rp15.298/US$).

Pemilik emiten Chandra Asri (TPIA) tersebut resmi mendorong Sri Prakash Lohia dari peringkat keempat orang terkaya di dunia . Diketahui, Lohia kini mengakumulasi kekayaan sebesar US$6,8 miliar.

Di tengah kenaikan harta, Emiten-emiten Prajogo Pangestu mencatatkan pergerakan yang berbeda-beda. Diketahui, seminggu ke belakang, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melonjak 15,73% ke angka Rp1.030.

Sebaliknya, emiten miliknya yang lain, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mengalami penurunan harga sebesar 12% dalam lima hari ke belakang. per pukul 11:29 WIB, CUAN mencapi harga Rp2.200 per lembar.

Kendati demikian, saham CUAN sempat mengalami pelonkan lebih dari 10 kali lipat dalam enam bulan terakhir. Menurt data per 14 Agustus, CUAN telah menguat 1.031%, dari harga Rp220 ke Rp2.490 dalam enam bulan terakhir.

Profil Prajogo Pangestu

Prajogo Pangestu bisa dianggap sebagai salah satu taipan yang meniti karir dari bawah. Putra seorang pedagang karet ini, hanya bisa mengenyam pendidikan tingkat menengah pertama karena keterbatasan ekonomi keluarganya.

Di Kalimantan Prajogo mendapat pekerjaan sebagai sopir angkutan umum jurusan Singkawang-Pontianak. Ia juga membuka usaha kecil-kecilan dengan menjual bumbu dapur dan ikan asin.

Di sela-sela pekerjaan itu, Prajogo bertemu dengan seorang pengusaha kayu asal Malaysia, bernama Burhan Uray. Dari pertemuan itu, pada 1969 Prajogo lantas memutuskan bergabung di perusahaan milik Burhan, yakni PT Djajanti Grup.

Baca Juga  Koalisi Pendukung Prabowo Lapor ke Presiden, Tapi Tak Ada Arahan

Lantaran etos kerja yang tinggi, Prajogo pun berhasil mendapatkan jabatan General Manager Pabrik Plywood Nusantara setelah tujuh tahun mengabdi pada grup yang menaunginya tersebut.

Hanya setahun saja Prajogo menjabat sebagai GM Djajanti Group. Ia putuskan resign dan membeli sebuah perusahaan yang sedang krisis finansial. Nama perusahaan tersebut adalah CV Pacific Lumber Coy.

Prajogo meminjam sejumlah dana pada sebuah bank untuk membeli perusahaan kayu ini. Hebatnya, ia dapat mengembalikan pinjaman tersebut hanya dalam kurun waktu satu tahun.

Perusahaan inilah yang kemudian berubah nama menjadi PT Barito Pacific. Pada masa orde baru, perusahaan ini maju pesat menjadi perusahaan kayu terbesar di Indonesia.

Namun kesuksesan ini tidak menghentikan langkah Prajogo untuk terus berkembang. Selanjutnya, ia melakukan ekspansi bisnis dengan mendirikan PT Chandra Asri Petrichemical Center dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Perusahaannya Barito Pacific Timber telah melakukan go public pada tahun 1993 dan berganti nama menjadi Barito Pacific setelah mengurangi bisnis kayunya pada tahun 2007. Pada tahun 2007 Barito Pacific mengakuisisi 70% dari perusahaan petrokimia Chandra Asri, yang juga diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Pada tahun 2011 Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Thaioil mengakuisisi 15% saham Chandra Asri pada Juli 2021.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Gegara Ini Pesawat Terbesar Dunia Parkir di Majalengka

(fsd/fsd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *