Solid di Sesi I, IHSG Berpeluang Ditutup Menguat

Berita, Teknologi130 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan sesi I, Selasa (29/8/2023).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG melesat 0,44% ke 6.952,28. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp6,12 triliun dan volume perdagangan 17,50 miliar saham. Sebanyak 261 saham naik, 244 turun, dan 234 stagnan.

Kenaikan IHSG beriringan dengan menghijaunya bursa Asia-Pasifik, di mana investor menanti rilis serangkaian data ekonomi di global pada pekan ini, untuk mendapatkan petunjuk mengenai prospek kebijakan moneter bank sentral global.

Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,21%, Hang Seng Hong Kong menanjak 2,36%, Straits Times Singapura bertambah 0,40%, ASX 200 Australia meningkat 0,60%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,42%, serta indeks Shanghai Composite China naik 1,50%.

Dari Jepang, data tingkat pengangguran periode Juli 2023 telah dirilis pada pagi hari ini. Data tingkat pengangguran Jepang pada bulan lalu naik menjadi 2,7%, dari sebelumnya sebesar 2,5% pada Juni lalu.

Hal ini menjadi kenaikan yang pertama dalam empat bulan terakhir, yang merupakan sinyal sedikit negatif bagi bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) dan pemerintah Jepang.

Sedangkan, rasio pekerjaan terhadap pelamar di Jepang turun menjadi 1,29 pada bulan lalu, dari sebelumnya sebesar 1,3 pada Juni lalu, yang menandai penurunan bulan ketiga, berlawanan dengan perkiraan para ekonom yang memperkirakan rasio tersebut akan tetap stabil.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas kembali menguat terjadi menyusul bursa saham AS, Wall Street yang juga ditutup kembali cerah pada perdagangan Senin kemarin.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,62%, S&P 500 bertambah 0,63%, dan Nasdaq Composite melesat 0,84%.
Sektor teknologi AS menjadi salah satu penopang Wall Street kemarin, terutama bagi indeks Nasdaq, karena saham-saham teknologi mencoba kembali untuk menguat.

Baca Juga  Apa Kabar IPO PalmCo? Ini Update Terbaru Dari Wamen BUMN

“Saat ini lebih merupakan peningkatan sektor siklus dibandingkan teknologi, dan saya pikir itu hanya berasal dari pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan di luar AS,” kata Dylan Kremer, co-chief investment officer di Certuity.

“Peningkatan teknologi tahun ini didorong oleh kecerdasan buatan dan juga faktor kualitas dalam perusahaan teknologi. Di kondisi saat ini, perlambatan pertumbuhan mungkin bisa diatasi, dan Anda mungkin melihat investor mulai lebih menyukai sektor siklus dibandingkan teknologi. jangka pendek,” tambah Kremer.

Pasar saham kembali bergairah, di tengah sikap pelaku pasar yang masih mencerna pernyataan baru dari Ketua bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), Jerome Powell pada Simposium Jackson Hole, Jumat pekan lalu.

Powell menunjukkan beberapa tanda berlanjutnya pertumbuhan ekonomi dan belanja konsumen yang kuat, namun mengindikasikan bahwa bank sentral akan “melanjutkan dengan hati-hati” kenaikan suku bunga tambahan.

Selain itu, ekonomi AS yang di gadang-gadang akan terjadi resesi nyatanya malah makin menguat.

Hal tersebut membuat para investor optimis akan keadaan ekonomi AS yang masih solid sehingga instrumen risiko menjadi menarik.

Ekspektasi investor soal suku bunga pada rapat The Fed edisi September adalah tidak ada kenaikan atau kembali ditahan. Menurut perangkat Fedwatch, 80% investor yakin Powell akan menahan suku bunga meskipun ada peluang kembali naik setelahnya.

Analisis Teknikal




Foto: CNBC Indonesia
Pergerakan IHSG Hari Ini

IHSG dianalisis berdasarkan periode waktu 1 jam (hourly) menggunakan moving average (MA) dan Fibonacci retracement untuk mencari resistance dan support terdekat.
Pada sesi I, IHSG mencoba mendekati level resistance kunci, yakni Fibonacci 100% (6.971). IHSG masih tertahan di atas MA 20 (6.915).

Pergerakan IHSG juga dilihat dengan indikator teknikal lainnya, yakni Relative Strength Index (RSI) yang mengukur momentum.

RSI merupakan indikator momentum yang membandingkan antara besaran kenaikan dan penurunan harga terkini dalam suatu periode waktu.

Indikator RSI berfungsi untuk mendeteksi kondisi jenuh beli (overbought) di atas level 70-80 dan jenuh jual (oversold) di bawah level 30-20. Dalam grafik 1 jam, posisi RSI naik ke 65,81.

Sementara, dilihat dari indikator lainnya, Moving Average Convergence Divergence (MACD), garis MACD di atas garis sinyal dengan kecenderungan melebar.

Di sesi II, IHSG berpotensi ditutup menguat dan menguji resistance terdekat di 6.960 sebelum menentukan arah berikutnya. Level support terdekat untuk IHSG berkisar di garis MA 20 (6.915) dan level psikologis 6.900.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Belum Sanggup Jebol 6.740, Waktunya IHSG Rehat Sejenak?

(mkh/mkh)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *